Hello, Motherhood!

Dear Readers,

It’s been forever since my last post.

Hello againnnn blogging!

Sanking lama nya saya sampai lupa kapan terakhir nulis di blog hehehe.  Anyway, yang bikin saya nggak sempet-sempet nulis adalah si krucil.. yes, i am a mother of 1 now.  Susah banget nemuin waktu yang pas untuk nulis, ini aja sambil gendong si kecil..babasling to rescue ;p

Proses persalinan saya akhirnya melalui proses c-section.  Sebenarnya pengen banget bisa melahirkan normal, tapi karena posisi bayi sungsang dan cukup besar tidak memungkinkan untuk saya melahirkan secara normal.

Sekitar 1 minggu sebelum operasi saya tes CTG jantung baby.. yang bikin deg-degan hasil pertama detak jantung baby sangat cepat sehingga obgyn saya juga ikut was-was dan meminta saya untuk kembali melakukan CTG.  Saya terancam c-section malam itu juga kalau hasilnya tetap jelek.  Akhirnya sebelum CTG kedua saya makan dulu, bercanda dengan keluarga dulu (padahal mereka sama deg-degannya dengan saya haha) supaya relaks.  Alhamdulillah hasil CTG kedua baik dan saya diperbolehkan pulang.  Pelajarannya adalah : jangan tes CTG pas laper dan selalu siap-siap hospital bag dari bulan ke 9!

Sehari sebelum saya masuk rumah sakit, saya masih nonton kungfu panda hehehe biar relaks dan nggak kepikiran.  Tanggal 20 Maret malam saya masuk rumah sakit untuk persiapan keesokan hari c-section.  Perasaan saya? campur aduk.  Antara takut sekaligus senang akan bertemu dengan si kecil..maklum saya tidak pernah dioperasi sebelumnya jadi ngebayangin masuk ruang operasi rasanya horor banget hehe.

Akhirnya, tanggal 21 Maret 2016, hari yang ditunggu-tunggu datang juga.  Sejak tengah malam saya sudah berpuasa untuk operasi di pagi hari.  Sejak subuh saya sudah keramas dan untungnya saya sudah menyempatkan waxing seminggu sebelum melahirkan (ini beneran penting banget waxing di rs tuh nggak bangeeet hehehe). Jam setengah 7 pagi suster pun menjemput saya di kamar.  Seluruh keluarga sudah berkumpul..saya juga berpamitan kepada mereka satu persatu.  Rasanya mellow sekali waktu itu, pikiran udah campur adukkk aja.  Untungnya suami menemani saya dari awal hingga akhir jadi saya nggak merasa sendirian banget.

Proses Operasi sebenarnya lancar-lancar saja.  Saya juga nggak merasa sakit sama sekali waktu dibius hehehe.  Malah asik ngobrol dengan pak dokter ngobrolin macem-macem.  Karena saya nggak dibius total jadi dari pinggang keatas masih sadar total.  Tapi asli deh ruangan operasi itu dingiiiiinnn sekali jadi saya rasanya menggigil setelah operasi.  Sedih sekali pada saat itu saya nggak sempat IMD karena saya kedinginan dan takut baby nya juga kedinginan huhuhu.  Setelah keluar ruang operasi saya masih menggigil hingga diberi selimut 40 derajat yang kayaknya waktu itu nggak ada hangat-hangatnya di saya.  Untungnya satu jam kemudian saya mulai kembali ke suhu normal dan mulai kepanasan..tapi di saat itu pula efek bius perlahan hilang digantikan rasa sakit.  Mana haus dan lapar banget rasanya dan tidak diperbolehkan makan sampai saya bisa buang angin karena takut malah saya mual dan muntah.

Proses pemulihan memakan waktu cukup lama.  Seingat saya operasi berlangsung jam 8 pagi dan selesai pukul 10, tapi saya baru masuk kamar kembali itu sekitar jam 3 sore.  Untungnya sekitar jam setengah 5 saya bisa bertemu Rafi, nama panggilan untuk anak saya, sehingga bisa mengobati sedikit rasa sakit setelah operasi.  3 hari pertama setelah operasi itu adalah masa-masa suram buat saya.  Rasa sakit kontraksi rahim begitu bius hilang benar-benar luar biasa (setidaknya buat saya, atau mungkin toleransi rasa sakit saya yang rendah hehe).  Sepanjang malam saya tidak bisa tidur dan meminta penghilang rasa sakit tambahan pada suster.  Posisi badan juga harus lurus rata 180 derajat selama 24 jam sehingga buat saya itu agak ‘menyiksa’.  Bayangkan, saat itu saya baru bisa makan jam 10 malam.  Sampai saat ini saya juga masih bingung kenapa di rumah sakit lain diperbolehkan makan setelah operasi sedangkan saya lebih dari 12 jam setelah operasi.  Mungkin saya akan bertanya saat program hamil anak kedua nanti hehe.

Keesokan harinya saya mulai belajar duduk, bangun dari tempat tidur, dan berjalan.  Awalnya sakit sekali, bekas luka operasi masih kaku dan cenat-cenut..  tapi karena dibiasakan lama-lama sakitnya berkurang.  Apalagi Rafi juga sempat disinar sehingga saya harus bolak balik ke ruang bayi.  Disaat yang sama seperti kebanyakan ibu-ibu lainnya PD mulai memproduksi ASI sehingga bengkak disana-sini.  Saya rasanya mau marah-marah terus hahaha apalagi kalau ingat suster yang massage PD dengan cara yang tidak seharusnya sampai sakitnya itu ke ubun-ubun kepala.  Haduuuhhh nggak mau diulang lagi deh, makanya saya punya beberapa tips untuk ibu-ibu yang mau operasi caesar :

  • Jangan lupa siapkan korset setelah operasi.  Saya menganjurkan Belly Bandit atau Mamaway bamboo corset, karena gurita rekat rumah sakit sangat tidak nyaman.
  • Jangan lupa membawa pakaian dalam yang nyaman dan tidak terlau hipster, ditakutkan mengenai luka operasi.
  • Baiknya buat perjanjian dengan terapis jasa perawatan setelah melahirkan.  Mereka jauh lebih baik dan paham dengan massage PD, jangan minta massage dengan suster karena rasanyaaaaa amit-amit.
  • Siapkan booster ASI untuk jaga-jaga kalau colostrum tidak langsung keluar.

Rasanya itu saja tips penting yang jarang saya temukan dan dengar dari orang lain hehe.  Monggo bisa comment dibawah ini yaa kalau ada saran lain yang pastinya sangat membantu.

Post selanjutnya saya akan bercerita mengenai perjalanan menyusui saya.  Semoga Rafi bisa diajak bekerjasama lagi seperti hari ini hehehe.

Dengan ini, saya ucapkan : HELLO MOTHERHOOD! 🙂

 

p.s.

Kepada suamiku tercinta, terimakasih atas ketulusan, dan kesabaranmu yang tanpa batas.  Terimakasih karena selalu ada dan tidak lelah mendukungku hingga hari ini. Me and Rafi love you much… words are never enough to express how lucky i am to have you as my husband and father to my children.

signature 1